Headlines News :

BLOG PRIVACY

MOHON MAAF JIKA PORTAL INI TIDAK BERISI KONTEN PORNOGRAFI KARENA DI DALAM BLOG INI HANYA BERISI PENGETAHUAN YANG MUNGKIN ANDA HARAPKAN
Home » » Belajar

Belajar


1.      Pengertian Belajar
     Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
     Seperti yang dikemukakan oleh Kimble dan Garmenzi (1963 : 133) bahwa “belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen terjadi sebagai hasil dari pengalaman”. Sedangkan Garry dan Kingsley (1970 : 15) menyatakan bahwa “belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang orisinil melalui pengalaman dan latihan-latihan”
     Dengan demikian belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Perubahan tingkah laku menurut Watherington (1952) meliputi perubahan keterampilan kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, apresiasi, sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman dalam proses belajar menurut Benyamin Bloon (1976) tidak lain adalah interaksi antara individu dan lingkungannya.
     Oleh sebab itu belajar adalah proses aktif. Belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu yang dipelajari. 
2.      Pengertian Mengajar
     Para ahli psikologi dari pendidikan memberikan batasan atau pengertian mengajar yang berbeda-beda rumusannya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan titik pandang terhadap makna atau hakekat mengajar.
     Atas dasar pandangan ini mengajar diartikan menyampaikan ilmu pengetahuan (bahan pelajaran) kepada siswa atau anak didik. Batasan atau rumusan ini telah lama dianut kalangan pendidik, mulai dari tingkat guru taman kanak-kanak sampai dosen di perguruan tinggi.
     Bentuk dari hakekat belajar yang telah dibahas sebelumnya, maka belajar dapat dirumuskan dalam beberapa batasan yang intinya memberi tekanan kepada kegiatan optimal siswa belajar. Beberapa batasan atau rumusan mengajar yang bertolak dari pandangan ini antara lain sebagai berikut :
      “Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa. Pembelajaran adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar” (Nana Sudjana, 1975: 3)

     Rumusan mengajar di atas, disamping berpusat pada siswa yang belajar (student centered). Juga melihat hakekat mengajar sebagai proses, yakni proses yang dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar dan telah kita bahas bahwa proses belajar menyesuaikan perubahan tingkah laku. 
     Proses pembelajaran merupakan satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan yang primer sedangkan kegiatan mengajar merupakan kegiatan sekunder yang dimaksudkan untuk dapat terjadi kegiatan belajar yang optimal.
     Situasi yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar yang optimal adalah suatu situasi dimana siswa dapat berinteraksi dengan guru, selain itu situasi tersebut dapat lebih mengoptimalkan kegiatan belajar bila menggunakan metode dan media yang tepat. Agar dapat diketahui keefektifan kegiatan pembelajaran, maka setiap proses dan hasilnya harus dievaluasi.
     Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan beberapa komponen. Adapun komponen-komponen yang membentuk proses pembelajaran adalah:
a.       Siswa, yakni seseorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
b.      Guru, yakni seseorang yang bertindak sebagai pengelola proses pembelajaran, katalisator dan peran lainnya yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif.
c.       Tujuan, yakni pernyataan tentang perubahan tingkah perilaku yang diinginkan terjadi pada siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
d.       Isi pelajaran, yakni segala informasi berupa fakta, prinsip dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
e.       Metode, yakni cara yang teratur untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapat informasi.
f.       Media, yakni bahan pelajaran dengan atau tanpa alat yang digunakan untuk menyajikan informasi.
g.      Evaluasi, yakni cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya.
     Komponen-komponen proses pembelajaran tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain dan bermula serta bermuara pada tujuan. Adanya interaksi antara komponen-komponen proses pembelajaran dimana antara yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi, maka proses pembelajaran merupakan suatu sistem.     
B.     Kondisi Pembelajaran yang Efektif di Sekolah Dasar
     Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya.
     Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi pembelajaran, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses pembelajaran. Guru berperan sebagai pengelola proses pembelajaran, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif sehingga memungkinkan proses pembelajaran, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai.  
     Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses pembelajaran yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar karena memang siswalah subjek utama dalam belajar. Dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif sedikitnya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar siswa, sebagai berikut :
1.      Melibatkan Siswa Secara Aktif
     Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. “Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for purpose of aiding the pupil learn”  demikian menurut William Burton
     Dengan demikian, aktivitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan, pembelajaran sehingga muridlah yang seharusnya banyak aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.
     Pada kenyataannya di sekolah-sekolah sering kali guru yang aktif sehingga murid tidak diberi kesempatan untuk aktif. Betapa pentingnya aktivitas belajar murid dalam proses pembelajaran sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan pentingnya prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Bahkan jauh sebelumnya para tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel, dan Montessory telah mendukung prinsip aktivitas dalam pengajaran ini.
     Aktivitas belajar murid yang dimaksud di sini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal :
1.       Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demonstrasi.
2.       Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi
3.       Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan
4.       Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis.
5.       Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat.
     Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memiliki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan mana yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran. Yang jelas, aktivitas kegiatan belajar murid hendaknya memiliki kadar atau bobot  yang lebih tinggi.
     Sistem pembelajaran yang merupakan salah satu upaya dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efesien, yakni dengan sistem belajar siswa aktif atau CBSA.

2.      Menarik Minat dan Perhatian Siswa
     Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Misalnya seorang anak menaruh minat terhadap bidang kesenian, maka ia akan berusaha untuk mengetahui lebih banyak tentang kesenian.
     Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaitannya dengan sifat-sifat murid, baik dan bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri, dan minatnya.
     William James (1890) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi, efektif merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
     Mengingat pentingnya minat dalam belajar, seorang tokoh pendidikan lain dari Belgia, yakni Ovide Decsproly (1871 – 1932), mendasarkan sistem pendidikannya pada pusat minat yang pada umumnya dimiliki oleh setiap orang yaitu minat terhadap makanan, perlindungan terhadap pengaruh iklim (pakaian dan rumah), mempertahankan diri terhadap macam-macam bahaya dan musuh, bekerjasama dalam olahraga. Mursell dalam bukunya “Succesful Teaching” memberikan suatu klasifikasi yang berguna bagi guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa. Ia mengemukakan 22 macam minat yang diantaranya ialah bahwa anak memiliki minat terhadap belajar. Dengan demikian, pada hakikatnya setiap anak berminat terhadap belajar, dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat anak terhadap belajar.
3.      Prinsip Individualitas
     Salah satu masalah utama dalam pendekatan pembelajaran ialah masalah perbedaan individu. Setiap guru memahami bahwa tidak semua murid dapat mempelajari apa-apa yang ingin dicapai oleh guru. Biasanya perbedaan individual itulah yang lalu dijadikan kambing hitam. Jarang sekali guru menjelaskan bahwa ketidakmampuan murid dalam belajar itu merupakan akibat dari kelemahan guru dalam mengajar.
     Menurut Bloom (1976), jika guru memahami persyaratan kognitif dan ciri-ciri sikap yang diperlukan untuk belajar seperti minat dan konsep diri pada diri siswa-siswanya, dapat diharapkan sebagian besar siswa akan dapat mencapai taraf penguasaan sampai 75% dari yang diajarkan. Oleh sebab itu, hendaknya guru mampu menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan-kebutuhan siswa secara individual tanpa harus mengajar siswa secara individual.
     Mursell dalam bukunya, Successful Teaching, mengemukakan perbedaan individual secara vertikal dan secara kualitatif. Yang dimaksud dengan perbedaan vertikal adalah intelegensi umum dari siswa itu. Perbedaan kualitatif terletak pada bakat dan minatnya. Maka wajar bila ada anak yang suka mempelajari atau memperdalam IPA, IPS, Elektronika, dan sebagainya.
     Mengingat adanya perbedaan-perbedaan tersebut, maka menyamaratakan (menganggap sama) semua siswa ketika guru mengajar secara klasikal pada hakikatnya kurang sesuai dengan prinsip indivudualitistis ini. Setidak-tidaknya guru harus menyadari bahwa setiap individu sama memiliki perbedaan. Oleh karena itu, guru hendaknya memahami dan menyadari apabila ada siswa yang cepat menerima dan memahami pelajaran yang diberikannya, atau bahkan sebaliknya ada yang lemah atau lambat dalam menerima pelajaran dan tidak cukup dengan sekali dijelaskan, yang akhirnya memerlukan bimbingan khusus.
     Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang hanya ditujukan kepada seorang saja, melainkan dapat saja ditujukan kepada sekelompok siswa atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan siswa sehingga pengajaran ini memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal.
     Sistem pengajaran modern sudah mulai meninggalkan sistem klasikal (sejumlah siswa pada tempat dan waktu yang sama mendapat pelajaran yang sama pula) seperti yang telah kita lakukan sekarang ini. Tokoh-tokoh pendidikan sejak zaman dahulu, seperti Maria Montessory, Petersen, dan Miss Helen Parkhurst, mengecam sistem pendidikan klasikal. Mereka menekankan sistem pendidikan berdasarkan pendekatan individualistis sehingga mereka mendirikan Sekolah Montessory (Maria Montessory), Sekolah Dalton (Miss Helen Parkhurst), dan Sekolah Jene (Peterson) yang semuanya menekankan atas individualistis. Pengajaran diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
4.      Peragaan dalam Pengajaran
     Alat peraga pengajaran Teaching aids, atau, audio visual aids (AVA) adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan banyak verbalisme tentu akan segera membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya.
     Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkrit dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran daripada bila siswa belajar tanpa dibantu dengan alat pengajaran
C.    Upaya Guru dalam Pembelajaran yang Efektif di Sekolah Dasar
     Dalam upaya memberikan pelajaran kepada anak SD sehingga tercipta kondisi belajar yang efektif, banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru. Baik itu dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh komponen sekolah maupun yang dilakukan oleh sendiri oleh guru sebagai langkah inisiatif. Upaya-upaya tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Penggunaan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran
     Kata “media” menurut Heinich, dkk (1982) berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” (between) yaitu perantara sumber pesan (source) dengan penerima pesan (receiver).
Dalam proses pembelajaran, media ini dapat diartikan sebagai berikut :
a.       Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm, 1977)
b.      Sarana fisik untuk menyampaikan isi / materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya. (Briggs,1977).
c.       Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya. (NEA,1969).
     Pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan (dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. (Romiszowski,1988)
     Media sangat berperan penting dalam peningkatan dan mengefektifkan proses pembelajaran, seperti yang dikatakan Sri Anita Wieryawan dan Noorhadi (1994) bahwa penggunaan suatu media adalah untuk membantu guru dalam menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara tepat, cepat dan akurat.
     Dalam proses pembelajaran, guru diharuskan menggunakan media agar peserta didik yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran terhindar dari gejala verbalisme yakni mengetahui kata-kata yang disampaikan guru tetapi tidak memahami arti dan maknanya. Apabila hal ini terjadi dalam pelaksanaan proses pembelajaran maka jelas pelaksanaannya akan tidak efektif. Dan apabila hal itu terjadi maka mutu pendidikan akan terpengaruhi.
     Untuk itulah diharapkan kepada guru untuk memanfaatkan media dalam proses pembelajaran. Sebab penggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan agar :         
a.       Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan.
b.      Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk mau belajar.
c.       Menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam teknologi, karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.
d.      Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan oleh peserta didik.
     Jadi media yang digunakan merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengantarkan atau menyampaikan pesan berupa sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat menangkap, memahami, dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan itu. Di sini dapat tergambar bahwa media dapat berfungsi sebagai berikut :
a.       Alat bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif
b.      Media merupakan bagian integral dari keseluruhan situasi belajar
c.       Dapat meletakkan dasar-dasar yang konkrit dan konsep yang abstrak
d.      Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
2.      Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
     Sumber belajar adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi. Sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar (AECT, 1997). Sumber belajar tersebut dapat dibedakan menjadi 6 jenis yaitu pesan (message), orang (people), bahan (materials), alat (tools and equipment), teknik (technique), dan lingkungan (setting). Pesan adalah segala informasi dalam bentuk ide / gagasan, fakta, daya yang disampaikan kepada siswa, biasanya pesan-pesan ini sudah tertuang dalam kurikulum (GBPP). Orang adalah manusia yang berperan sebagai pengelola dan penguji pesan seperti guru, pembimbing, penatar, dan narasumber (resource person) yang dilibatkan dalam kegiatan belajar. Bahan berkaitan dengan software atau perangkat lunak yang berisi pesan-pesan pembelajaran seperti, buku, teks, modul, majalah, paket belajar, termasuk juga film, program televisi, kaset, audio, dan sebagainya. Alat adalah perangkat keras (hardware) yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran, seperti proyektor OHP, televisi, proyektor slide, pesawat radio dan sebagainya. Teknik adalah prosedur yang digunakan untuk menyajikan pesan / bahan agar seperti sistem belajar jarak jauh, Simulasi, diskusi, seminar, pemecahan masalah dan sebagainya. Sumber belajar yang terakhir yaitu lingkungan yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran. Apabila kita mencermati pengertian dan aspek-aspek dalam sumber belajar di atas, maka media pembelajaran sudah tercakup sebagai sumber belajar.
     Lingkungan yang ada di sekitar siswa adalah salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar secara lebih formal. Bila anda mengajar dengan menggunakan lingkungan tersebut sebagai sumber belajarnya, maka hal itu akan lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan. Nilai-nilai apa saja yang dapat anda peroleh dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar? Banyak sekali keuntungan yang dapat kita peroleh, diantaranya:
a.       Lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari siswa kita, memperkaya wawasannya, tidak terbatas oleh tempat dinding kelas dan kebenarannya lebih akurat.
b.      Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik, tidak membosankan, dari menumbuhkan antusiaisme siswa untuk lebih giat belajar.
c.       Belajar akan lebih bermakna (meaningful learning), sebab siswa dihadapkan dengan keadaan yang sebenarnya.
d.      Aktifitas siswa akan lebih meningkat dengan memungkinkannya menggunakan berbagai cara seperti proses mengamati, bertanya, atau wawancara, membuktikan sesuatu, menguji fakta dan sebagainya.
e.       Dengan memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya dapat dimungkinkan terjadinya pembentukan pribadi para siswa, seperti cinta akan lingkungannya.
3.      Penggunaan Metode Pengajaran yang Sesuai
     Guru hendaknya dapat memahami metode dengan baik dan menghubungkannya dengan materi yang akan diajarkannya. Ada beberapa strategi mengajar yang dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar.
a.       Memusatkan Perhatian
     Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perhatian siswa. Dalam permulaan pelajaran, guru dapat membuat kontak mata atau berbuat sesuatu yang mengejutkan murid dengan maksud untuk menarik perhatian murid. Seorang guru ilmu pengetahuan alam (IPA) dapat meniup balon sebelum pelajaran dimulai. Warna yang mencolok, perubahan dalam nada suara, sinar, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, semua dapat digunakan untuk menarik perhatian.
b.      Mengidentifikasi apa yang penting, sulit dan tidak biasa
     Siswa sering memperhatikan pelajaran dan belajar dengan keras, tetapi mereka memusatkan pada metode yang salah. Mereka mungkin menghabiskan waktu belajar mereka dengan hal-hal yang tidak penting dan kehilangan pokok-pokok yang penting. Mereka mungkin berkonsentrasi pada materi yang telah mereka ketahui dan menghindari mengerjakan tugas-tugas yang sulit atau kurang dikenal. Beberapa siswa ada yang lebih baik dari yang lain dalam mempertimbangkan pelajaran mana yang lebih penting setelah mereka betul-betul mengerti ide yang disampaikan oleh guru. Olehnya itu guru harus selalu mempersiapkan suatu keadaan yang lebih menantang agar lebih mendapatkan perhatian bagi yang telah memahaminya.
c.       Belajar dapat dipertinggi jika guru membantu siswa merasa bahwa betapa pentingnya pelajaran itu, satu strategi untuk melakukan ini adalah membuat tujuan pelajaran sejelas mungkin. Jika murid-murid tahu apa yang diharapkan dari mereka untuk melakukan sesuatu di dalam pelajaran, mereka akan lebih dapat memusatkan perhatian pada hal-hal yang lebih penting.
     Dalam pelajaran mengarang atau membuat grafik hal-hal yang penting dapat ditandai dengan membuat garis bawah atau simbol-simbol seperti bintang. Dalam penyampaian pelajaran lisan guru dapat memperjelas perbedaan dan persamaan ide-ide yang disampaikan dengan memberikan contoh yang berbeda dari konsep-konsep yang diajarkan. Jika suatu ide baru membuat murid bingung guru harus memberi contoh dengan memperjelas perbedaan yang ada. Bagian pelajaran yang sulit harus diberi perhatian ekstra.
     Salah satu cara yang kelihatan sangat logis untuk memotivasi siswa selama pelajaran adalah menghubungkan pengalaman belajar dengan minat siswa ini tidak selalu mudah: adakalanya siswa harus menguasai mata pelajaran dasar sedangkan siswa tidak berminat terhadap mata pelajaran tersebut. Minat siswa dapat merupakan bagian dari metode mengajar. Contoh yang diberikan oleh Silvia Ashton Warner (1973) menggambarkan suatu sistem untuk mengajar membaca dengan menggunakan cerita-cerita yang dibuat oleh siswa sendiri dengan topik-topik yang diminati mereka.
     Jika seorang guru tahu apa yang diminati siswa, banyak tugas-tugas mengajar di kelas yang dapat dihubungkan dengan minat-minat murid. Ada sejumlah cara untuk mengetahui minat siswa. Jalan yang paling langsung adalah menanyakan kepada siswa sendiri, bisa dengan angket atau berbicara dengan mereka. Siswa mungkin dapat ditanya dari sekian banyak kegiatan siswa yang mana yang paling kurang dipilih? Di kelas ketika ada jam pelajaran guru dapat mengobservasi langsung kegiatan-kegiatan siswa.
     Kegiatan mereka merupakan kunci dari minat mereka. Guru-guru dapat memperhatikan siswa-siswa mana yang paling memperhatikan selama pelajaran berlangsung. Ini adalah salah satu metode untuk mengukur minat siswa. Guru juga dapat merangsang keingintahuan siswa sehingga memberi kesempatan kepada siswa supaya menjadi tahu adalah suatu hal yang penting untuk mempertinggi motivasi. Lingkungan yang tidak berubah akan sangat membosankan. Mungkin guru dapat menciptakan suatu “meja minat” atau meja yang diisi dengan berbagai macam benda yang disukai oleh siswa. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan timbul dengan hal-hal yang aneh.
     Guru juga dapat mendorong motivasi siswa dengan memulai pelajaran yang dapat menimbulkan rasa keingintahuan siswa. Selanjutnya pengalaman-pengalaman keingintahuan siswa ini dapat dicocokkan dengan kemampuan kognitif siswa.
4.      Pemanfaatan Alokasi Waktu yang Tepat
     Hal ini dimaksud agar dalam proses belajar, benar-benar efesien dan efektif, sehingga kerancuhan dalam penerimaan pelajaran oleh siswa tidak terjadi, yang akan mengakibatkan timbulnya rasa jenuh dalam proses pembelajaran. Pengalokasian waktu yang dimaksud adalah antara penyajian materi secara oral dengan penggunaan alat peraga
Share this article :

0 Komentar:

CARI

< Letakkan disini kode Shoutbox Anda>

Artikel Populer

 
Support : Creating Website | Ekhardhi Design | Ekhardhi Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. @ekhardhi - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Ekhardhi Design